Opini: Pimpinan Tertinggi Turun ke Lapangan, Pencitraan atau Sinyal Sistem Birokrasi yang Macet?
- calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
- visibility 60
- comment 0 komentar

Fenomena pimpinan tertinggi negara atau daerah yang kerap kali turun langsung ke lapangan (blusukan) selalu memicu perdebatan publik: apakah ini murni pencitraan untuk mendulang popularitas, atau justru indikasi serius bahwa sistem birokrasi dan pelaporan di bawahnya tidak berjalan efektif?
Secara realistis, tindakan ini adalah perpaduan dari keduanya, namun dengan bobot yang berbeda tergantung pada intensi dan dampaknya.
1. Sinyal Birokrasi yang Tidak Jalan (Akar Masalah)
Kebutuhan pimpinan tertinggi untuk blusukan sering kali menjadi alarm merah bahwa ada masalah struktural dalam birokrasi:
Filter Informasi: Pimpinan tidak mendapatkan gambaran utuh dan jujur tentang kondisi riil di lapangan. Laporan yang sampai ke meja mereka sudah “diperhalus” oleh berbagai tingkat jabatan di bawahnya (fenomena “ASAL BAPAK SENANG” – ABS).
Ketidakpercayaan pada Staf: Tindakan turun langsung menunjukkan kurangnya keyakinan pimpinan terhadap data dan kinerja yang dilaporkan oleh jajaran di bawahnya, mulai dari camat, dinas, hingga menteri.
Lambatnya Respons: Masalah-masalah kecil di tingkat akar rumput tidak tertangani karena prosedur yang berbelit atau kurangnya inisiatif dari pejabat pelaksana. Blusukan menjadi jalan pintas (jalan darurat) untuk mempercepat pengambilan keputusan.
Menggantikan Peran Bawahan: Ketika pemimpin melakukan tugas yang seharusnya bisa diselesaikan oleh pejabat teknis (misalnya mengecek kebersihan pasar atau kualitas jalan), ini mengindikasikan bahwa sistem delegasi dan pengawasan telah gagal.
Dalam konteks ini, blusukan adalah obat darurat, bukan solusi permanen. Jika terus menerus dilakukan, itu berarti sistem birokrasi sakit kronis.
2. Dimensi Pencitraan dan Kepemimpinan (Efek Samping)
Tidak dapat dimungkiri, setiap tindakan publik seorang pemimpin akan selalu mengandung unsur pencitraan:
Kedekatan Emosional: Turun ke lapangan menciptakan citra pemimpin yang merakyat, peduli, dan bekerja keras, yang sangat efektif dalam membangun dukungan politik. Momen interaksi dengan rakyat kecil akan selalu menjadi headline positif di media.
Motivasi dan Pengawasan: Kehadiran pimpinan tertinggi di lapangan memberikan efek kejut dan motivasi bagi jajaran di bawahnya untuk segera bertindak. Ini adalah bentuk pengawasan langsung yang mengirimkan pesan tegas: “Saya mengawasi dan saya tahu kondisi sebenarnya.”
Transparansi Tindakan: Bagi publik, menyaksikan pemimpin turun langsung memberikan rasa aman bahwa masalah mereka didengar dan diatasi, terlepas dari motif politiknya.
Kesimpulan: Blusukan sebagai Diagnosa, Bukan Terapi Utama
Pimpinan tertinggi turun ke lapangan harus dilihat sebagai alat diagnostik yang powerful, bukan sebagai strategi pemerintahan sehari-hari.
Jika blusukan menghasilkan perbaikan sistem birokrasi, penindakan tegas terhadap pejabat yang lalai, dan perubahan kebijakan yang didasari temuan lapangan, maka tindakan tersebut adalah katalisator untuk perubahan sistem.
Namun, jika blusukan hanya menghasilkan selfie dan janji yang tidak ditindaklanjuti dengan perbaikan sistemik, maka itu hanyalah pencitraan semata yang menutup-nutupi kegagalan birokrasi untuk berfungsi secara mandiri dan efektif.
Pemerintahan yang ideal adalah di mana pimpinan tertinggi tidak perlu blusukan karena sistem birokrasi, dari level paling bawah, sudah bekerja secara otomatis, jujur, dan responsif.
- Penulis: Palembanglipp

Saat ini belum ada komentar